Berdamai Itu Tidak Mudah, Tapi… Kamu Bisa Ikuti 5 Tips Ini

Photo by Pixabay from Pexels

Berdamai itu tidak mudah. Yup, memang bener banget kok untuk sebagian orang berdamai dengan hal-hal yang tidak enak di masa lalu itu tidaklah mudah.

Kalau kamu salah satu yang merasakannya, tenang aja kamu enggak sendirian kok di dunia ini yang merasa seperti itu karena manusia lain juga punya masa lalu yang kurang indah juga.

Tapi kamu harus tahu bahwa dirimu sangat berharga terlepas dari apapun yang pernah terjadi di masa lalumu dan kamu punya hak untuk bahagia atas hidupmu.

Jadi, yuk sekarang cobalah mulai berdamai dengan dirimu, dengan hal-hal yang kamu sesali, dengan kenangan-kenangan buruk yang menghantuimu. Kamu bisa mencoba tips-tips ini.

1. Dengarkan Dirimu Sendiri

Selama ini seringkah kamu menceritakan hal-hal yang sudah lalu kepada orang-orang terdekatmu dan bagaimana respon mereka?

Kalau ternyata kamu pernah kecewa ketika menceritakan hal-hal buruk yang telah lalu kepada orang-orang di sekitarmu karena respon yang diberikan tidak menyenangkan mungkin sudah saatnya kamu sendiri perlu menjadi pendengar yang baik.

Jadilah pendengar yang baik untuk dirimu sendiri karena mungkin ketika kamu menceritakan hal-hal buruk yang bikin bad mood kepada orang lain justru responnya terkesan menghakimi, sok tahu, malah membanding-bandingkan, dan hal lain yang kurang berkenan untukmu.

Jadi lebih baik mulailah dengarkan dirimu sendiri dengan menuangkan isi pikiranmu melalui tulisan, rekaman suara atau video lalu baca atau dengarkan setelahnya oleh diri sendiri.

Tanyakan pada dirimu, “Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa begitu? Lalu apa yang sebenarnya dibutuhkan?”

2. Lepaskan Emosi Apapun yang Kamu Rasakan dan Jujurlah

Ketika mendengarkan diri sendiri anggaplah dirimu sendiri adalah satu-satunya teman terbaik dan paling dipercaya yang kamu punya.

Berceritalah padanya dengan jujur dan lepaskan emosi apapun yang memang kamu rasakan bahkan jika perlu menangis dan berteriak maka lakukanlah.

Tapi sebaiknya kamu benar-benar dalam kondisi sendirian misalnya ketika di rumah yang memang tidak ada siapapun di sana yang memungkinkan bisa mendengar atau mengganggumu.

Karena kamu sedang butuh didengarkan dan melepaskan segala emosimu tanpa adanya gangguan dari siapapun yang mungkin bisa berpotensi meresponmu dengan cara yang kurang tepat dengan kondisimu.

Ingat, jadikanlah dirimu sendiri teman terbaik yang siap sedia mendengarkan, memahami dan menerima bagaimanapun kondisimu apapun penyebabnya.

3. Tetap Isi Diri dengan Informasi-Informasi yang Positif

Lepaskan segala emosi, apalagi emosi-emosi negatif yang selama ini terpendam sampai kamu benar-benar merasa plong, lega.

Setelah itu perhatikan dirimu dan jaga informasi-informasi apa saja yang sebaiknya kamu terima dan mana yang sebaiknya kamu tolak.

Berikanlah informasi-informasi positif terhadap dirimu sendiri supaya energi positif untuk diri terisi dengan baik setelah kamu merasakan dan melepaskan emosi negatif yang selama ini ada di dalam diri.

Ibaratnya kamu melakukan recovery diri dari luka-luka lamamu dengan memberikan afirmasi-afirmasi positif.

4. Renungkan dengan Tenang Apa yang Telah Terjadi

Setelah rasa sakit yang selama ini kamu tahan mulai sedikit demi sedikit reda cobalah memikirkan ulang hal-hal buruk yang telah terjadi.

Berpikirlah sendirian karena kamu sendiri pemilik masa lalumu itu dan sebenarnya paling paham terhadap diri sendiri.

Dari apa yang telah terjadi pasti selalu ada pelajaran yang bisa kamu ambil untuk lebih baik di masa depan dan kamu punya kendali untuk menyetir dirimu untuk tidak melakukan atau mengalami hal buruk yang serupa seperti masa lalu.

Jadilah pengendali keadaan bukan menjadi seseorang yang dikendalikan keadaan. Sadar bahwa kamu sendiri berhak untuk move on dan bahagia.

5. Maafkanlah Dirimu dan Orang Lain yang Mungkin Pernah Menyakitimu

Bagaimana setelah kamu merenungkah hal-hal buruk yang telah terjadi di masa lalu, banyak pelajaran yang bisa kamu ambil kan?

Pengalaman diri sendiri merupakan hal yang paling berharga karena sebegitu bisa sangat melekat dengan diri kita sendiri.

Sekarang, setelah kamu bisa mengambil banyak pelajaran ucapkanlah terimakasih kepada dirimu di masa lalu dengan senyuman.

Lalu apa? Maafkanlah dirimu sendiri supaya kamu bisa merasakan lebih ringan dan bisa menerima yang sudah terjadi.

Kemudian maafkanlah orang-orang yang pernah berbuat salah dan menyakitimu di masa lalu supaya kamu bisa berjalan maju tanpa beban.

Itu kelima tips yang mungkin bisa kamu coba yang intinya kamu harus menyelesaikannya dengan dirimu sendiri dulu sebelum melibatkan orang lain.

Jika kamu merasa sudah melakukan banyak cara untuk menyembuhkan diri sendiri tapi kamu masih merasa hari-harimu berat sampai aktivitasmu terganggu tidak ada salahnya kamu meminta bantuan dari profesional.

Jadi, apakah kamu butuh ke profesional sekarang? Kamu sendiri yang bisa memutuskan karena kamu yang paling tahu kondisi diri dan apa yang paling dibutuhkan saat ini.

Jangan pernah menyerah ya pada dirimu, karena kamu selalu berhak mendapatkan kehidupan yang bahagia!

Kesimpulan

Mungkin berdamai dengan masa lalu bagi sebagian orang memang tidaklah mudah tapi bukan berarti tidak bisa.

Bantulah dirimu sendiri supaya bisa menerima apapun hal buruk yang telah dilalui sampai kamu bisa berjalan ke depan dengan ringan dan tanpa beban.

Karena obat terbaik dan jawaban atas luka-luka masa lalu yang masih membekas di dalam diri adalah dirimu sendiri.

Kamu Belum Pulih dari Masa Lalu, Ini 5 Tanda yang Mungkin Sedang Kamu Rasakan!

Photo by Fa Barboza on Unsplash

Masa lalu yang telah dialami enggak akan pernah hilang dari ingatan gitu aja karena sesuatu yang udah terjadi dan berlalu itu udah terekam di dalam otak.

Si pemilik masa lalu adalah diri sendiri, jadi kalau kamu tiba-tiba teringat tentang masa lalu sebenarnya wajar aja karena itu memang punyamu.

Otak kita memang punya kemampuan menembus waktu dan tempat makanya ia mampu mengakses kejadian-kejadian di masa lampau yang tertanam sejak lama di dalam ingatan kita.

Hmm, apakah kamu pernah merasa terganggu dengan masa lalumu?

“Gara-gara kejadian waktu itu, aku malah yang jadi begini.”

Beberapa kali atau bahkan sering terbesit di dalam pikiranmu untuk menyalahkan kejadian-kejadian di masa lalu yang membuatmu di masa kini meratapinya.

Padahal kondisi di masa sekarang dengan masa lalumu mungkin sudah sangat berbeda jauh seperti tempatnya, kesibukan yang sedang kamu lakukan bahkan orang-orang yang ada di sekelilingmu.

Apakah sekarang kamu mulai merasa lalu bertanya-tanya, sudahkah kamu sembuh atau belum dengan luka dari masa lalu?

Cobalah cek lima tanda-tanda ini yang mungkin bisa membantumu berpikir apakah kamu sudah benar-benar sembuh atau belum dari luka masa lalumu.

1. Sensitif Jika Ditanya Tentang Masa Lalu

Di luar sana banyak sekali macam-macam orang dengan berbeda sifat. Kamu sendiri mungkin sudah memahaminya sejak lama ya?

Ada orang yang cuma kepo dengan urusan dan masalah kita namun ada juga yang benar-benar peduli sampai rela menawarkan bantuan dengan tulus.

Tapi bagaimanakah dengan responmu terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka yang terkait dengan kejadian-kejadian buruk dari masa lalumu?

Jika kamu masih merasa seperti tersetrum aliran listrik yang kemudian menuntun emosi mu menjadi kesal tandanya masih ada luka yang membekas di dalam hatimu akibat hal-hal yang terjadi di masa lalu.

Mungkin ketika ditanya oranglain kamu bisa menjawabnya dengan biasa sampai lawan bicaramu itu tidak tahu bahwa kamu kurang nyaman ditanya seperti itu.

Tapi kamu tidak pernah bisa membohongi dirimu bahwa kamu baik-baik saja ketika ditanyai hal-hal yang membuatmu sendiri menjadi sensitif.

2. Tidak Nyaman Dengan Diri Sendiri

Pernahkah kamu merasa bahwa dari masa lalu kamu banyak sekali kurangnya? Seperti tidak pernah juara kelas, merasa tidak punya teman, tidak punya bakat apapun, dan yang lainnya.

Hal-hal semacam itu dapat membuatmu tidak nyaman terhadap dirimu sendiri hingga kini karena kamu selalu memikirkan hal-hal yang tidak pernah kamu miliki dan dapatkan.

Sudah sadar atau belum, dengan menyibukkan pikiran dengan hal-hal semacam itu justru dapat mengahalangimu untuk berkembang dan berubah menjadi jauh lebih baik.

Bahkan jika terus-terusan diratapi atau menyalahkan masa lalu tanpa melakukan introspeksi diri dari kejadian masa lalu tersebut, bisa-bisa dirimu semakin tidak memiliki apapun dan melewatkan banyak kesempatan.

Kamu bisa kehilangan kesempatan untuk mulai memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi, membentuk lingkaran pertemanan yang positif, dan juga menggali potensi diri.

Lebih baik kamu mencoba untuk introspeksi dan lebih mengenali kekurangan dan kelebihanmu. Kemudian belajar menerima diri sendiri apa adanya supaya kamu nyaman dengan dirimu sendiri dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

3. Menyalahkan Diri Sendiri

Pernahkah kamu berkata seperti ini kepada dirimu.

“Coba aja dulu aku enggak………”

Ada hal yang kamu lakukan di masa lalu yang kamu sendiri berharap tidak melakukannya karena hal-hal tersebut membuatmu menyesal.

Lalu kamu menekan dirimu sendiri dengan menyalahkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan waktu dulu.

Padahal apa yang terjadi di masa lalu belum tentu adalah kesalahanmu, mungkin memang bagian dari takdir yang kejadiannya harus seperti itu.

Jadi, kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri apalagi oranglain karena belum tentu juga apa yang terjadi saat itu adalah kesalahan oranglain.

4. Menangis Tiap Kali Teringat Masa Lalu

Masa lalu kadang muncul begitu saja di dalam pikiran tanpa disadari pemicu awalnya sebenarnya apa.

Apakah tiap teringat masa lalu itu masih membuat hatimu seperti teriris dan merasakan rasa perih?

Lalu kemudian kamu sedih bahkan menangis karena masih merasakan sakit hati setiap teringat pahitnya kejadian di masa lalu.

Hal seperti itu menunjukkan bahwa kamu masih belum bisa menerima sepenuhnya dan ikhlas terhadap hal-hal buruk yang pernah terjadi di dalam hidupmu.

Jujur saja pada dirimu sendiri bahwa memang kamu belum bisa menerimanya karena jika terjadi hal seperti itu yang dibutuhkan terkadang hanya jujur pada diri sendiri.

Bila menangis membuatmu jadi lebih lega maka menangis saja tidak perlu kamu tahan, lepaskan saja emosi-emosi negatif yang selama ini mungkin terakumulasi dalam diri tapi tidak bisa dikeluarkan.

5. Timbul Kecemasan atau Bahkan Sampai Tahap Depresi

Kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan dari masa lalu dapat berputar terus menerus seperti film di dalam pikiran.

Hal seperti itu bisa mengganggu sampai membuatmu takut terhadap masa depanmu karena dapat memicu muncul kecemasan terhadap masa depan yang belum terjadi.

“Aduh, iya ya. Kalau nanti kejadiannya seperti dulu lagi aku enggak mau, enggak bisa. Argh!”

Pengalaman-pengalaman buruk yang terjadi di masa lalu bisa dijadikan pelajaran kalau sampai terjadi hal serupa dan mungkin perlu diatasi dengan cara berbeda sehingga hasilnya pun akan berbeda.

Tapi jangan biarkan pikiran terus menerus terjebak dengan hanya memikirkan pengalaman buruk di masa lalu sehingga menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik.

Ujung-ujungnya hal itu bisa menjadi kebiasaan yang membuat otakmu memikirkan hal-hal buruk yang belum terjadi sehingga membuatmu pusing sendiri.

Jika kamu terbiasa membiarkan dirimu terlarut dalam kecemasan-kecemasan tersebut lama kelamaan dapat mempengaruhi kondisi psikismu yang bisa sampai menyebabkan depresi.

Jangan biarkan dirimu sampai pada tahap ini. Namun bila kamu sudah sampai pada tahap ini janganlah kamu berdiam diri saja.

Cobalah mencari bantuan atau pertolongan dari orang terdekat terlebih dahulu dan jelaskan bagaimana kondisimu.

Atau jika kamu merasa butuh bantuan dari tenaga professional segeralah minta pertolongan dari mereka dan tak perlu merasa minder.

Kesimpulan

Jadikan masa lalu yang telah dialami adalah pelajaran hidup yang bisa menjadi bekal supaya lebih baik di masa-masa selanjutnya. Jadi jangan terus menerus menyalahkan masa lalu ya dan mulailah berdamai dengannya.

Mungkin kamu sekarang sedang memikirkan ulang harus bagaimana mengatasi diri yang belum berdamai sepenuhnya dengan masa lalu. Ayo mulailah tolong dirimu sendiri karena dirimu sendiri mungkin adalah obat terampuhnya.

Bagaimana Berhenti Kecanduan Instagram? Puasa!

Photo by 🇨🇭 Claudio Schwarz | @purzlbaum on Unsplash

Sebetulnya ada apa sih dengan Instagram yang membuat dia terus-terusan dilirik oleh banyak orang hampir setiap waktu?

Tentu saja untuk melihat foto dan video, karena sejak awal kemunculannya Instagram memang bertujuan untuk berbagi foto dan video.

Namun, menurut dr. Verury Verona Handayani di dalam website halodoc, dengan selalu memperhatikan media sosial dapat menyebabkan seseorang terpacu untuk terus konsumtif dan juga tanpa disadari muncul pikiran membanding-bandingkan diri dengan oranglain.

Sehingga perlu untuk mengurangi penggunaan Instagram, salah satu caranya dengan berpuasa. Mengapa berpuasa?

Hmm, menurut bahasa puasa bermakna menahan. Jadi, dengan membiasakan menahan diri lama kelamaan akan muncul kebiasaan tidak bergantung terhadap Instagram.

Lalu bagaimana caranya? Yuk, lanjut!

1. Menonaktifkan notifikasi selama melakukan kegiatan penting

Photo by Jamie Street on Unsplash

Menonaktifkan notifikasi di handphonemu bisa kamu lakukan bukan hanya untuk Instagram saja sih, bisa juga kamu menonaktifkan media sosial yang lain jika diperlukan.

Dengan kita menonaktifkan notifikasi selama melakukan kegiatan kita sehari-hari misalnya saat belajar, bekerja, atau mungkin ketika beres-beres rumah akan membantu kita untuk tidak sedikit-sedikit ngecek handphone.

2. Deactivate akun Instagram

Photo by Solen Feyissa on Unsplash

Sudah tak asingkah dengan istilah deactivate account? Mungkin diantara kamu ada yang sudah pernah menggunakannya ataupun belum.

Bagi yang belum mengenal fitur ini, pada profilmu dapat kamu cari pilihan Temporarily disable my account yang merupakan fitur untuk menonaktifkan akun Instagram untuk sementara. Namun seberapa efektif menggunakan fitur ini bergantung pada diri kita sendiri lho.

Jika kita menonaktifkan akun Instagram kita sementara waktu tapi ternyata kita tetap aktif menggunakan second account, berarti kita belum benar-benar rehat sementara dari Instagram.

Hayo, siapa yang punya fake account? Hahaha.

3. Mencari kegiatan lain sebagai pengganti main Instagram

Photo by Skylar Jean on Unsplash

Pernah enggak sih kamu ketika membaca buku, mengerjakan tugas atau pekerjaan, atau mungkin ketika makan tiba-tiba muncul rasa penasaran untuk mengecek handphone?

Kali ini setelah menonaktifkan notifikasi bahkan menonaktifkan akun Instagram untuk sementara sebaiknya berusahalah untuk fokus saja pada kegiatan yang sedang dilakukan.

Lakukanlah hobi-hobimu seperti membaca, menulis, menggambar, bermain alat musik, menjahit, belajar, olahraga dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak perlu menggunakan handphone. Jika merasa tidak ada hobi atau hal lain yang disenangi, cobalah untuk mengeksplorasi melakukan hal-hal baru.

Supaya melatih fokusmu dalam melakukan hal lain, bisa saja kamu atur batas waktu dalam mengerjakan sesuatu dengan bantuan timer di handphone. Tapi harus komitmen ya, jangan pegang handphone sampai timernya bunyi.

Atau kamu juga bisa mencoba salah satu aplikasi untuk menjaga fokusmu yang bisa kamu unduh di Google Play Store. Psstt… aplikasi ini lucu dan menarik lho!

4. Membatasi penggunaan Instagram

Photo by Emma Matthews Digital Content Production on Unsplash

Sudah tahu ada fitur memantau dan membatasi waktu menggunakan Instagram? Yuk coba dicek, buka profilmu > klik Settings > klik Account > klik Your Activity.

Di sana kamu akan melihat berapa lama waktu yang kamu habiskan untuk menggunakan Instagram. Lalu terdapat pilihan untuk mengatur pengingat jumlah waktu yang digunakan untuk Instagram dan pengaturan notifikasi darimana saja yang ingin kamu dapatkan.

Dengan adanya fitur tersebut kamu dapat mengatur batas waktu penggunaan Instagrammu. Selain itu dapat kamu manfaatkan untuk membantumu dalam menjadwal penggunaan Instagram di waktu tertentu.

Seperti puasa di bulan Ramadhan, sahur sebelum shubuh lalu berbuka puasa setelah magrib. Kita bisa mengatur berapa lama dan kapan kita menggunakan Instagram sesuai dengan keinginan tapi… jangan ya lupa sesuaikan dengan kebutuhan.

Yup, namanya juga puasa jangan hanya ikuti kemauan kita terus bermain Instagram. Aturlah penggunaan Instagram pada waktu-waktu tertentu yang tidak mengganggu kegiatan-kegiatan utamamu terutama hal-hal yang wajib dikerjakan.

5. Konsisten dan disiplin

Photo by Some Tale on Unsplash

Setelah membaca keempat tips di atas, hal terakhir yang perlu dilakukan adalah konsisten dan disiplin.

Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Darmawan Aji di dalam blognya, untuk membangun sebuah kebiasaan dibutuhkan waktu 18-254 hari. Namun rata-rata waktu yang dibutuhkan sebanyak 66 hari.

“Wah, lama banget dong lebih dari 2 bulan?”  

Ingat, jika kita menginginkan sebuah perubahan kita harus serius. Fokuslah pada keinginan dan tujuan akhir bahwa ingin berhenti kecanduan Instagram supaya tidak terkena dampak-dampak negatif yang mempengaruhi kesehatan mental.

Hal ini dilakukan juga semata-mata demi kebaikan dirimu sendiri bukan?

Sumber Bahan Bacaan (Blog): halodoc, Darmawan Aji.

Kecanduan Instagram, Kaum Wanita Harus Sadar!

Illustration by Freepik Stories

Jangan hidup dengan ukuran kebahagiaan orang lain dan temukan arti kebahagiaan buat dirimu sendiri.

Valencia Nathania

Terkadang beberapa dari kaum wanita sering mengeluhkan bahwa setiap kali membuka Instagram sering muncul perasaan insecure ketika melihat oranglain di Instagram terlihat lebih cantik, lebih kurus, pergi ke sana-sini, telah memperoleh pencapaian ini-itu, dan yang lainnya.

Kira-kira kenapa ya hal-hal seperti itu bisa muncul? Yuk, kita cari tahu!

Pernahkah kamu secara tidak sadar terlarut begitu saja di dalam explore instagrammu sampai lupa waktu?

Mungkin kebanyakan dari kamu tidak sadar bahwa banyak waktumu terbuang hanya untuk melihat-lihat feed dan story oranglain, kemudian perlahan kamu mulai membandingkan dirimu dengan oranglain?

Tahukah kamu, berdasarkan data yang diperoleh dari GoodNews, pengguna Instagram terbanyak pada bulan Januari sampai Mei 2020 adalah kaum wanita.

Selain itu berdasarkan informasi yang diperoleh dari OKEZONE, rata-rata waktu yang dihabiskan untuk menggunakan Instagram yaitu selama 53 menit.

Kalau kamu, berapa lama yang kamu pakai untuk menggunakan Instagram? Ayo coba kita cek bareng-bareng.

Eits, dimana ya kita bisa cek berapa lama waktu yang sudah kita habiskan di Instagram? Caranya buka profilmu, lalu klik Settings, pilih Account, kemudian pilih Your Activity.

Gimana hasilnya? Setelah kita tahu berapa lama yang kita habiskan untuk menggunakan Instagram, yuk kita cek apa saja indikasi yang menunjukkan apakah kita kecanduan atau tidak.

1. Bangun tidur langsung buka Instagram

Foto oleh RF._.studio dari Pexels

Ayo siapa yang tiap bangun tidur langsung nyari HP terus buka Instagram?

Mungkin Instagram memang salah satu media sosial yang paling banyak digunakan. Sehingga memang banyak informasi-informasi terbaru yang bisa kita peroleh dari sana.

Tapi, apa kamu selalu memperhatikan akun apa saja yang kamu ikuti dan informasi-informasi seperti apa yang kamu dapatkan?

Coba dicermati lagi ya! Siapa tahu informasi-infomasi yang kurang berfaedah yang diperoleh tanpa disaring bisa mempengaruhi isi pikiran kita bahkan mood kita.

Karena seperti kata Dr. Gillian McKeith, “You are what you eat.”. Jika informasi yang kamu terima merupakan asupan yang kamu berikan terhadap otakmu.

Maka bayangkan jika informasi yang kita terima diberikan begitu saja tanpa disaring, bagaimana respon kita? Misalnya kita melihat seorang teman upload sebuah story berisi foto di tempat yang instagamable banget di kala pandemi masih melanda seperti ini. Apakah pikiranmu akau merespon dengan tanggapan yang baik atau buruk?

2. Sedikit-sedikit cek HP

Foto oleh Edmond Dantès dari Pexels

Dalam satu hari ini yang terdiri dari 24 jam, tentu saja aktivitas kita bisa bermacam-macam. Bisa saja kita bekerja, merapihkan barang-barang di rumah, memasak, mencuci, dan sebagainya.

Pernahkah kamu ketika sedang melakukan aktivitas tertentu tiba-tiba secara reflek tanganmu mengambil ponselmu? Apa yang kemudian kamu lakukan padahal tidak ada pesan masuk ataupun telepon?

Wah, kalau jawabannya iya maka ini bisa menjadi tanda kecanduan karena setelanya kamu perlu memperhatikan apa yang kamu lakukan setelah memegang ponselmu.

Meskipun mungkin kamu tidak membuka Instagram, apakah kamu memang butuh untuk menggunakan ponselmu itu? Jika tidak, maka ini bisa menjadi salah satu ciri-ciri kecanduan gadget lho!

3. Memantau jumlah likes dan orang yang melihat story mu

Foto oleh Prateek Katyal dari Pexels

Bagi kamu yang sudah lama aktif di Instagram, sudah berapa banyak foto atau video yang diunggah ke dalam Instagram? Atau berapa banyak story yang telah kamu buat?

Selama ini kita bisa melihat berapa jumlah likes yang kita peroleh setelah memasukkan foto atau video di Instagram. Selain itu jumlah orang dan siapa saja yang melihat story kita dapat kita lihat pula.

Apa pernah kamu setelah membuat sebuah postingan di Instagram atau story setelahnya selalu mengecek secara berulang berapa orang yang memberikan like pada postinganmu atau mengecek siapa saja yang telah melihat storymu?

Nunggu dilihat sama doi ya? Hehehe.

4. Scrolling terus!

Foto oleh cottonbro dari Pexels

Ketika sudah masuk ke dalam Instagram, rasanya kurang lengkap ya kalau kita enggak buka explore untuk sekedar kepo. Hahaha.

Tapi, pernah enggak ketika udah buka explore atau ketika lagi lihat-lihat isi Instagram terus aja nge-scroll sampe lupa waktu?

“Eh, perasaan daritadi aku mau nyetrika baju malah keasyikan buka Instagram.”

Lalu kamu sadar sudah lebih dari 10 menit ternyata waktumu terbuang padahal kalau nyetrika udah selesai daritadi. Hahaha.

5. Belajar cara mengedit foto

Foto oleh ready made dari Pexels

Jika kita melihat dari waktu ke waktu content yang ada di Instagram semakin menarik. Hal ini didukung pula dengan kemajuan teknologi.

Semakin menariknya macam-macam postingan yang ada di Instagram membuat pengguna Instagram lainnya pun tertarik dan mencari tahu bagaimana membuat sebuah foto atau video terlihat lebih menarik di dalam feed maupun story.

Apakah kamu yang merupakan salah satu pengguna Instagram tersebut pernah menghabiskan waktu cukup lama untuk mengulang-ulang editan postingan mu agar terlihat menarik?

Atau mungkin selama ini setiap mau melakukan suatu hal kamu berhenti dulu sejenak untuk mengambil gambar. Misalnya seperti hendak makan bersama teman-teman kamu merapikan dulu tatanan meja makanmu demi memdapatkan foto terbaik untuk dipajang di story?

Hal seperti ini mungkin bisa berdampak tidak baik terhadap orang sekelilingmu. Misalnya ketika hendak makan dengan teman-temanmu dan mereka sudah sangat lapar tapi kamu melarangnya makan dulu karena hendak mengambil foto.

“Aduh, jadi keburu enggak laper deh!”

Mungkin saja teman yang lain bisa kehilangan selera makannya.

Salah satu dampak negatif yang timbul ketika seseorang telah kecanduan Instagram adalah mungkin saja timbul pikiran untuk membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan oranglain.

Lalu timbul rasa insecure terhadap diri sendiri dan seringkali merasa tidak puas dengan kehidupannya sendiri.

Dampak lainnya yang paling parah yaitu dapat menimbulkan depresi.

Menurut para ahli memang tidak semua orang yang menggunakan Instagram berpotensi kecanduan. Para peneliti masih mencari tahu bagiamana pengaruh dari ciri kepribadian yang dapat kecanduan teknologi termasuk dengan media sosial.

Sekarang, setelah mengetahui beberapa hal yang mengindikasikan bahwa seseorang mungkin kecanduan oleh Instagram sebaiknya kita mulai memperhatikan diri kita sendiri demi kesehatan mental kita. Tidak ada salahnya kita mulai puasa media sosial dengan memanfaatkan fitur pengatur pengingat harian seberapa lama waktu untuk mengakses Instagram.

Referensi Sumber Bahan Bacaan (Web) : DosenPsikologi.com, tirto.id, GoodNews, OKEZONE, IDN Times, Hello Sehat, KOMPAS.com.

Mengapa Media Sosial Bisa Meningkatkan Omset Penjualan? Ini Alasan-Alasan Utamanya!

https://stories.freepik.com/illustration/admin/amico#BBE1FFFF&hide=Gears&hide=simple

Bisnis online akan menjadi bisnis penyangga atau penyokong bisnis anda.

Alvin Joner, Founder Akademi Bisnis Digital (ABDi)

Era digital saat ini menjadikan bisnis secara online mampu menjaring banyak pembeli hanya dengan satu ketukan.

Bagi yang baru memulai bisnis baik itu dengan menjual produk sendiri, menjadi reseller atau dropshipper dan juga bagi yang telah memulai bisnisnya cukup lama mungkin selalu berpikir bagaimana ya caranya meningkatkan omset penjualan?

Nah, caranya cukup mudah yaitu dengan memanfaatkan media sosial sebagai tempat promosi sehingga kita bisa menebarkan jaring untuk mendapatkan pembeli.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempromosikan produk yaitu dengan memasang iklan secara gratis hingga berbayar supaya mencapai omset penjualan yang diharapkan.

Sebelum mencari tahu apa saja alasan mengapa melalui media sosial dapat meningkatkan omset, sebaiknya cari tahu dulu bagaimana sih cara memasang iklan di media sosial. Yuk!

Cara Memasang Iklan di Media Sosial

Gimana sih caranya pasang iklan di media sosial secara gratis? Jawabannya gunakan fitur status di media sosial untuk mempromosikan produk yang kita jual.

Melakukan promosi dengan membuat status misalnya melalui WhatsApp, Instagram, Facebook atau Line cukup efektif dalam mempromosikan produk karena orang-orang jaman sekarang cukup banyak menghabiskan waktu untuk melihat status apalagi yang doyan kepoin orang haha.

Promosi melalui status akan lebih efektif jika kita rajin-rajin update dan menyajikan informasi-informasi produk kita salah satunya dengan memasukkan testimoni-testimoni dari pelanggan kita sehingga hal tersebut dapat menarik minat oranglain yang melihat status kita.

Selain memasang iklan secara gratis kita dapat melakukan promosi produk secara berbayar diantaranya dengan menggunakan Facebook Ads, Instagram Ads dan Google Ads.

Kamu pasti sering menemukan banyak iklan ketika berselancar di Facebook, Instagram dan juga ketika sedang mengunjungi beberapa website. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian banyak konsumen melalui media sosial tersebut.

Begitulah cara promosi yang telah dilakukan oleh banyak perusahaan namun untuk usaha menengah ke bawah pun dapat melakukan promosi seperti itu dan caranya mudah.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti Webinar gratis yang diadakan oleh ABDi (Akademi Bisnis Digital).

Kemudian melalui Webinar tersebut Mas Alvin Joner menjelaskan bagaimana cara menggunakan Facebook Ads untuk memasang iklan.

Cara menggunakan Facebook Ads yaitu dengan menentukan terlebih dahulu seperti apa sih target konsumen yang kita inginkan mulai dari tempat tinggalnya di daerah mana, usia, jenis kelamin, bahasa yang digunakan bahkan sampai komunitas yang berhubungan dengan produk yang akan kita iklankan. Wah bisa sangat spesifik ya?

Biaya Memasang iklan

Berapa sih biaya pasang iklannya? Jangan takut, biaya pasang iklan melalui Facebook Ads, Instagram Ads dan juga Google Ads terjangkau kok.

Menurut hasil pencarian yang saya peroleh, biaya pasang iklan bisa dimulai dari Rp. 10.000 per harinya dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita misalnya kita ingin mengatur iklan kita disebarkan selama berapa hari maka nanti biaya akan menyesuaikan.

Mudah dan Terjangkaunya Media Sosial

Setelah mengetahui bagaimana cara memanfaatkan media sosial untuk memasang iklan sehingga nantinya bisa berdampak pada omset penjualan kita, mudah bukan?

Sekarang ini teknologi mengalami perkembangan yang cukup pesat dan dampak nyatanya bisa kita lihat langsung di sekitar. Mulai usia anak balita pun kini sudah terbiasa memegang ponsel sambil menonton video di Youtube.

Selain itu juga kita bisa lihat bahwa memang kebanyakan orang menghabiskan waktunya selama berjam-jam dalam sehari untuk berselancar ria di media sosial.

Maka dari itu kita bisa memanfaatkan media sosial untuk menjangkau lebih banyak konsumen dan juga tidak ada ruginya kita promosi di media sosial karena biaya terjangkau dan simple hanya dengan satu ketukan kita langsung bisa mempromosikan produk ke banyak orang.

“Tapi kan ribet harus ngisi-ngisi form di Facebook Ads segala! Enggak ngerti ah!”

Jangan dibawa ribet dulu, tinggal belajar aja. Jaman sekarang ilmu apapun bisa kita akses melalui internet, tinggal modal kuota.

Sekarang, pilih mau atau enggak untuk belajar supaya omset meningkat?

3 Alasan Utama Mengapa Media Sosial Dapat Meningkatkan Omset Penjualan

Nah, ini dia tiga alasan utama kenapa melalui media sosial bisa meningkatkan omset penjualan. Lanjut!

1. Informasi tentang Produk Cepat Menyebar

Photo by Canva Studio from Pexels (https://www.pexels.com/photo/woman-sharing-her-presentation-with-her-colleagues-3153198/)

Dengan cepat menyebarnya informasi mengenai produk yang kita jual maka semakin cepat pula orang-orang mengetahui keberadaan produk kita.

Hal tersebut tentunya sangat penting, mengapa? Karena kita ingin produk kita diketahui oleh banyak orang terlebih dahulu kan? Apalagi jika ternyata produk yang kita jual tergolong masih baru.

Di media sosial hal apapun bisa menyebar begitu saja dengan cepat apalagi kalau content nya menarik.

Content yang menarik akan membuat para pengguna di media sosial bisa dengan suka rela menyebarkannya begitu saja kepada teman-teman, keluarga serta pengguna media sosial lainnya di dunia maya.

Dengan begitu kita jadi memiliki banyak calon pembeli karena orang-orang yang telah melihat produk kita mungkin saja memang sedang membutuhkannya atau akan membelinya di kemudian hari.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Facebook di dalam DATAREPORTAL pada bulan Januari 2020 terdapat 130 juta orang Indonesia yang dapat dijangkau melalui periklanan dari Facebook.

Bayangkan jika kita bisa menjangkau sekitar 0,1% nya saja di Facebook itu untuk promosi, sudah mencapai ribuan orang kan?

2. Efektif dalam Menentukan Target Konsumen

Photo by Pixabay from Pexels (https://www.pexels.com/photo/facebook-application-icon-147413/)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa memasang iklan di media sosial bisa sangat spesifik dan tepat sasaran seperti melalui Facebook Ads.

Kita tinggal menentukan saja seperti apa target pasar yang kita inginkan sehingga kita tinggal mengaturnya supaya tepat sasaran.

Berdasarkan data jumlah pengguna media sosial yang tercantum dalam DATAREPORTAL bulan Januari 2020 terdapat 160 juta pengguna aktif media sosial. 160 juta pengguna aktif tersebut terdiri dari berbagai usia.

Wah, melihat angka tersebut berarti kesempatan kita supaya produk kita dilirik banyak orang melalui media sosial akan cukup besar.

Tinggal bagaimana cara kita mengelolanya saja karena banyak faktor yang mempengaruhi keefektifan dari iklan kita supaya memperoleh banyak konsumen.

Misalnya saja kita mau menentukan usia dan jenis kelamin untuk menjual sebuah produk kecantikan. Apakah kita akan mejualnya kepada lelaki berusia 50 tahun ke atas?

Tentu kita akan memilih mempromosikan produk kita kepada perempuan yang paling tidak berusia 18 sampai 30 tahun.

3. Memperluas dan Mengembangkan Target Pasar

Photo by Erik Scheel from Pexels (https://www.pexels.com/photo/apple-business-fruit-local-95425/)

Setelah melihat data-data yang ada dan mengetahui cara kerja dari media sosial, kita bisa tahu jika melakukan promosi melalui media sosial sebetulnya produk kita tidak hanya berpotensi diketahui dan dibeli oleh perempuan berusia 18 sampai 30 tahun saja.

Tapi, lelaki berusia 27 tahun pun bisa saja menjadi calon pembeli kita meskipun kita berjualan masker untuk membuat kulit wajah terlihat glowing. Kenapa?

Ya mungkin saja lelaki itu mau membelikan masker untuk pasangannya, saudara atau bahkan ibunya.

Maka, target pasar kita menjadi lebih luas tidak hanya sebatas perempuan saja sebetulnya.

Selain itu melalui media sosial kita bisa meminta feedback dari para pembeli sehingga kita akan memperoleh banyak masukan yang sangat berguna untuk berkembang supaya lebih baik, salah satunya dalam menentukan target pasar yang lebih sesuai sasaran.

Jadi, untuk kamu yang masih pemula atau sudah cukup lama terjun dalam dunia bisnis, yuk mulai mengoptimalkan penggunaan media sosial dalam mencari serta mendapatkan banyak pembeli dan selain itu menjadikan media sosial digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.

Kalo merasa kesulitan atau masih baru di media sosial tinggal belajar aja.

Semua pasti bisa kalau mau belajar dan terus berusaha.

Apakah ada jaminan 100% omsetmu akan benar-benar meningkat?

Hasilnya biar Yang Di Atas yang menentukan.

Referensi Wabinar : Webinar Akademi Bisnis Digital (ABDi) (2 Juli 2020) bersama Alvin Joner.

Referensi Sumber Bahan Bacaan (Blog) : Digital Marketing School, ProgressTech, Blog Sribu, dan DATAREPORTAL.

Apa Passion mu?

Sesaat, sesaat tadi aku kepikiran sebenernya passionku tuh apa yaa? Kalo nginget-nginget ke belakang dari kecil aku suka banget gambar dan ngarang cerita. Seiring berjalannya waktu, SD kelas berapa ya? Kelas 3 mungkin ya udah mulai ilang tuh kesukaan buat ngarang cerita. Aku dulu suka ngarang cerita karena dari kecil udah lumayan suka baca buku. Terus semakin gede pas beranjak SMP/SMA gitu mulai pudar doyan gambarnya. 

Nah, barusan aku baca buku, buku itu bilang kita dari kecil kita cuma dibiasain ngerjain tugas-tugas yang diperintahin aja jadi gaada kesempatan buat cari tau sebenernya yang kita pengenin tuh apa sih. Kalo dikaitin sama passion, passion itu kan suatu hal yang kalo kita lakuin bikin kita bahagia dan ikhlas aja selama ngerjain, terus kalo selama ini kita sibuk ngerjain tugas sekolah ya kapan kita bisa bener bener ada waktu untuk merasakan hal apa yang sebenernya bikin kita seneng.

Dulu aku seneng banget tuh ngegambar sama nulis tapi sekarang udah pudar sepertinya. Mungkin pidar itu karena lama kelamaan semua yang aku suka dulu itu kelelep sama kebiasaan aku di sekolah. Yang harus ngerjain tugas/PR, nyiapin buat ulangan, ada kegiatan di luar kelas juga. Kadang pengen banget rasanya balik lagi kaya dulu untuk bikin suatu karya ya walaupun mungkin, gambar aku atau tulisan tulisan aku tuh ga sebagus para seniman atau penulis profesional di luaran sana, tapi sampe sekarang di benak aku masih tertarik untuk hal hal itu. Tapi karena udah gapernah di asah, sekarang semuanya kalo mai dilakuin kok malah mentok kaya gapunya ide dan inspirasi. 

Makanya, sekarang di sela sela waktu pengen deh nyempeti nyempetin bikin sesuatu untuk refreshing aja sih. Mungkin gambar atau nulis nulis ga jelas. Karena dengan cara itu aku pikir bisa menuangkan dan mengekspresikan yang aku pikir atau rasain yang sulit untuk disampein atau malah bisa disampein tapi belom tentu oranglain terima. 

Blog ini juga dibikinnya sebenernya iseng sih sebenernya. Mungkin isinya juga bakal random karena belom kepikiran sih konsep. Lagian daripada pusing mikirin konsep, lebih baik tulis ya tulis aja. Itu juga kata kata dari penulis yang udah banyak karyanya. Karena kalo dibiasain aja kita nulis mungkin nanti bakal nemu idenya sendiri. Mungkin aja bakal nemu suatu ide tulisan yang berfaedah atau ketemu ide cerita. I hope 🙂 

Awe-Inspiring Me dan Rentang Kisah

Salah satu cara buat ngilangin kebosenan di saat waktu lowong (baca : nunggu panggilan kerja) kaya yang lagi aku rasain sekarang itu ya dengan baca buku. Waktu lebih produktif dan otak juga jadi keisi dengan informasi-informasi baru. Nah, di posting-an aku yang sekarang ini ada 2 buku yang udah aku baca yang menurut aku sih buku ini cukup menginspirasi dan memotivasi dengan rangkain-rangkaian cerita di dalemnya.

Bahas sekilas deh ya tentang kedua buku ini. Buku yang pertama judulnya Awe-Inspiring Me. Buku ini ditulis oleh Dewi Nur Aisyah. Buku ini bahas tentang bagaimana sih menjadi seorang muslimah yang “waw”? Muslimah “waw” yang dimaksud di buku ini tuh adalah muslimah yang inspiratif dengan segala pencapaiannya, entah itu dalam prestasi akademis maupun non akademis. Kalo dari yang aku dapet dari buku ini tuh untuk mencapai sesuatu kita perlu menuliskan cita-cita kita dan jangan lupa banyak berdoa dan ikhtiar sama Allah supaya cita-cita kita ini tercapai. Di buku ini, penulis tuh nyeritain pengalaman nya juga tentang pencapaiannya selama ini dan gimana sih cara nya dia untuk bisa mencapai itu semua selama ini. Selain itu juga penulis banyak menyelipkan nilai nilai islam di dalam buku ini.

Buku kedua judulnya Rentang Kisah. Penulis buku ini namanya Gita Savitri Devi. Gita Savitri Devi ini sejauh yang aku tau tuh dia seorang blogger, selebgram, dan youtuber. Kalo liat dari vlog-vlog di youtube nya, dia orangnya inspiratif dengan berbagai cerita dan opininya selama kuliah di Jerman. Di buku Rentang Kisah ini dia berbagi cerita tentang pengalaman-pengalaman nya mulai dari masih di bangku SMA sampe sekarang kenapa dia jadi punya pola pikir yang lebih terbuka. Nah, kalo yang aku dapet nih dari bukunya dia tuh kita perlu banyak bersyukur atas apa yang kita punya saat ini karena semua itu Allah yang kasih. Dengan kita banyak bersyukur sama Allah atas apa yang kita milikin sekarang kita akan ngerasa bahagia dan gak perlu iri sama apa yang oranglain punya atau dapetin karena setiap orang itu udah ditentuin jalannya masing-masing sama Allah.

Begitu deh sekilas tentang kedua buku yang udah aku baca dan sebenernya kedua buku ini ngangkat nilai-nilai islam. Dari kedua buku ini aku suka keduanya karena setiap buku ini sebenernya sama-sama menginspirasi tapi ngasih pesan yang beda 🙂20170930_104915[1]